Minggu, 07 Desember 2008

Materi Pelajaran

Model Referensi OSI


Apakah Layering?
• Teknik untuk mengorganisir suatu sistem jaringan kedalam suatu rangkaian logik entitas berbeda sedemikian sehingga service yang disediakan suatu entity hanya tergantung pada entity yang ada dibawahnya (lower level)
· Tanpa layering : tiap aplikasi baru harus diimplementasi ulang untuk tiap teknologi jaringan
• Solusi: mengintroduksir layer intermediate yang menyediakan abstraksi unik untuk macam-macam teknologi jaringan
Layering
• Keuntungan
– Modularitas - protokol mudah untuk di-’manage’ dan di-’maintain’
– Abstraksi fungsionalitas - lower layer dapat diubah tanpa mempengaruhi upper layer

• Memisahkan implementasi dari spesifikasi
• Kita bebas mengubah implementasi sepanjang service dipertahankan
– Reuse - upper layer dapat menggunakan ulang (reuse) fungsionalitas yang disediakan lower layer

• Beberapa upper layer dapat menggunakan common lower layers
• Kerugian
– Information hidding - implementasi tidak efisien

• mis. protokol flow control berpikir kehilangan paket disebabkan karena kongesti short term, sedangkan kenyataannya disebabkan oleh link yang putus?
• Mekanisme flow control akan gagal karena tidak mempunyai informasi yang memadai

Open System Interconnection

• ISO telah mendefiniskan Model Referensi OSI (ISO 7498, ITU-T X.200) : basis utk pengembangan standar sistem komunikasi komputer
• Menurut Model Referensi OSI, setiap “open system” dapat dipandang secara logika terdiri satu set terurut subsystem (layer


• (N)-subsystem berinterkasi dengan
– (N+1)-subsystem berikutnya yg lebih tinggi
– (N-1)-subsystem berikutnya yg lebih rendah
• Terdapat 7 subsystem/layer pada sustu open system
• Elemen yang berpartisipasi dalam model komunikasi OSI
– End-system = host/komputer/terminal
– Intermediate-system = komponen dari subnetwork = router, packet switches



• End-system terdiri dari 7 layer
• Intermediate-system hanya mengimplementasikan 3 layer
• (N)-layer terdiri dari satu atau lebih (N)-entity
• (N)-entity merupakan elemen aktif yg mengerjakan fungsi-fungsi pada (N)-layer
• Pasangan entities pd layer yg sama tetapi dari 2 end-system yg berbeda disebut peer-entities

• Logical interface antara satu (N+1)-entity dan satu (N)-entity disebut (N)-service access point atau (N)-SAP, tetapi:
– (N)-entity dapat melayani beberapa (N)-SAP
– (N+1)-entity dapat menggunakan beberapa (N)-SAP
– hanya ada satu (N+1)-entity di atas (N)-SAP


• Karena hanya ada satu (N+1)-entity di atas (N)-SAP maka (N)-SAP dapat digunakan utk mengidentifikasi (N+1)-entity


• (N)-address digunakan untuk mengidentifikasi satu set (N)-SAP pada perbatasan antara (N)-layer dan (N+1)-layer
• (N)-SAP address adalah (N)-address yg hanya mengidentifikasi satu (N)-SAP
• Asosiasi yg dibangun oleh (N)-layer antar 2 atau lebih (N+1)-entities utk keperluan transfer data disebut (N)-connection
• Satu (N)-SAP dp mempunyai lebih dari satu (N)-connection


• (N)-service didefiniskan sebagai satu set kemampuan dari (N)-layer dan layer-layer dibawahnya (sebagai (N)-service provider) yg diberikan ke (N+1) entities (sebagai (N)-service user) via (N)-SAP
• Fungsi dan prosedur komunikasi antara (N)-entities utk merealisasikan (N)-service disebut (N)-protocol


• Tiap layer pada Model Referensi OSI didefinisikan menurut standar yang terdiri dari
– Spesifikasi service
– Spesifikasi protocol

• Service mode
– Conncetion oriented
– Connectionless

• Connection oriented mode
– Connection establishment
– Data transfer
– Disconnection

• Connectionless mode
– Unit data transfer


• Aliran informasi antara (N)-service user dan (N)-service provider dinyatakan secara abstrak dalam bentuk primitive


• Service primitive untuk connection oriented mode
– Pembukaan hubungan

• (N)-CONNECT.request
• (N)-CONNECT.indication
• (N)-CONNECT.response
• (N)-CONNECT.confirmation
– Data transfer
• (N)-DATA.request
• (N)-DATA.indication
– Penutupan hubungan
• (N)-DISCONNECT.request
• (N)-DISCONNECT.indication
• (N)-DISCONNECT.response
• (N)-DISCONNECT.confirmation
• Service primitive untuk connectionless mode
– (N)-UNITDATA.request
– (N)-UNITDATA.indication
• Setiap service primitive mempunyai parameter
– Misal: (N)-CONNECT.request(parameter)
– Isi parameter: QoS, called address, calling address, user data, dll.
• Dalam menyediakan service ke higher layer, service provider harus mendukung dialog diantara service user
• Tipe dialog: Unconfirmed, Confirmed, Partially Confirmed
• Data unit yg dipertukarkan antara (N+1)-entity dan (N)-entity via (N)-SAP dalam 1 end-system disebut (N)-SDU
• Data unit yg dipertukarkan antara peer (N)-entities dalam 2 end-system yg berjauhan disebut (N)-PDU
• (N)-entities saling berkomunikasi dg menggunakan (N)-protocol dg saling bertukar (N)-PDU
• Proses pembentukan (N)-SDU dan (N)-PDU
• (N)-PCI digunakan utk mengkoordinasikan operasi (N)-protocol
• Fungsi-fungsi yg ada dalam suatu layer yg berkaitan dg pengoperasian data unit
• Fungsi-fungsi lain yg penting yg ada dalam suatu layer
– Multiplexing/demultiplexing

• Splitting/combining

Proses pembentukan dan pembuangan protocol headers
• Skenario komunikasi dan fungsi utama masing-masing layer


Konsep Model OSI
• Service - menyatakan apa yang dilakukan suatu layer
• Protokol - menyatakan bagaimana service diimplementasikan
– Protokol - satu set aturan yang mengatur komunikasi diantara peers yang berkomunikasi
• Syntac: menentukan format informasi yang dikomunikasikan
• Semantic: arti dari sinyal yang dipertukarkan
• Timing: kapan data ditransmisikan/dilihat, ururtan informasi, matching kecepatan, dll.
– Protocol diperlukan untuk interaksi diantara peers
• Protocol stack : satu set protocol layers
– Tiap layer menggunakan layer dibawahnya dan menyediakan service ke layer diatasnya

Physical Layer
• Service : memindahkan informasi antara dua sistem yang dikoneksikan dengan physical link
• Protokol : Skim pengkodeaan yang digunakan untuk merepresentasikan suatu bit, level tegangan, durasi bit

Data Link Layer
• Service:
– Framing - menambahkan separator frame
– Mengirimkan frame data antar peer
– Lainnya:
• mengatur akses ke medium fisik bersama
• menjamin transmisi handal
• menyediakan flow control

• Protokol : mengimplementasikan Medium Access Control (MAC), mengimplemetasikan komunikasi pada link antar node
Contoh: CSMA/CD, HDLC

Network Layer
• Service:
– Mengirimkan paket ke tujuan yang dispesifikasikan
– Melaksanakan segmentasi dan reassembly
– Lainnya:
• packet scheduling
• buffer management
• Protokol: mendefinisikan address global yang unik; membangun tabel routing
Contoh: IP

Transport Layer
• Service:
– menyediakan koneksi end-to-end erorr-free dan flow controlled
– memultipleks sejumlah koneksi transport ke satu koneksi network
– memecah satu koneksi transport ke sejumlah koneksi network

• Protokol: mengimplementasikan reliability dan flow control
Contoh: TCP dan UDP

Session Layer
• Service:
– full-duplex
– access management, misalnya kontrol token
– sinkronisasi, misalnya menyediakan checkpoint untuk transfer yang panjang

• Protokol: managemen token, menyisipkan checkpoint, mengimplemantasikan fungsi-fungsi roll-back


Presentation Layer
• Service: konversi data diantara macam-macam representasi

• Protokol: mendefinisikan format data dan aturan untuk mengkonversikan dari satu format ke format lainnya

Application Layer
• Service: sembarang service yang disediakan ke end user
• Protokol: tergantung pada aplikasi
Contoh : FTP, TELNET, WWW Browser
OSI vs TCP/IP
• OSI: secara konseptual mendefinisikan service, interface, protokol
• Internet: menyediakan implementasi yang sukses
Protocol Graph
• TCP/IP Protocol Graph
· TCP/IP Protocoll Suites
· Novell Protocol Suites
· DECnet Protocol Suites
· IBM Protocol Suites
· XNS Protocol Suites
· Banyan Protocol Suites
· LAN Protocols
· ISO Protocol Suites
· H.323 Protocols

Sabtu, 06 Desember 2008

soal kelas X TI A dan X TI B

1. Apa kelebihan Linux dibanding sistem operasi lain?
2. Apa kekurangan Linux ?
3. Sebutkan distro Linux yang anda ketahui minimal 7 buah distro
4. Sebutkan mode text pada Linux dan fungsi operasionalnya ( 5 buah saja )
5. Bagaimana maksud filosofi free/bebas yang distro Linux? jeaskan !
6. Sebutkan perangkat jaringan komputer untuk koneksi peer to peer
7. Apa yang dimaksud dengan koneksi peer to peer?
8. Sebutkan urutan pemasangan UTP untuk jaringan komputer ( 2 buah jawab )
9. Bagaimana seting IP address untuk jaringan komputer
10. Jelaskan tentang referensi OSI dan fungsi setiap layernya!

Kalimat jawaban tidak boleh sama, kalau copy paste teman keduanya di salahkan. Buat redaksi jawaban sendiri!!!

selamat bekerja....

Senin, 01 Desember 2008

Tugas untuk kelas XI TI

Tuliskan nama, kelas, dan alamat blog yang telah anda buat pada komentar tugas ini. Paling lambat sebelum tanggal 9 Desember 2008.

Rabu, 26 November 2008

modul 4 dan 5

OPEN SHORTEST PATH FIRST

1. Pendahuluan
OSPF merupakan interior routing protocol yang kepanjangan dari Open Shortest Path First. OSPF di desain olrh IETF ( Internet Engineering Task Force ) yang pada mulanya dikembangkan dari algoritma SPF ( shortest path first ). Hampir tidak berbeda dengan IGRP ( Interior Gateway Routing Protocol ) pada tahun 80-an. Pada awalnya RIP adalah routing protokol yang umum dipakai, namun ternyata untuk AS yang besar, RIP sudah tidak memadai lagi.

OSPF diturunkan dari beberapa periset seperti Bolt, Beranek, Newmans. Protokol ini bersifat open yang berarti dapat diadopsi oleh siapa pun. OSPF dipublikasikan pada RFC nomor 1247.

Karakteristik Open Shortest Path First (OSPF):
¨ Menggunakan Algoritma link-state
¨ Membutuhkan waktu CPU dan memori yang besar
¨ Tidak menyebabkan routing loop
¨ Dapat membentuk heirarki routing menggunakan konsep area
¨ Cepat mengetahui perubahan pada jaringan
¨ Dapat menggunakan beberapa metrik

2. Cara Kerja OSPF
OSPF bekerja dengan link-state protocol yang memungkinkan untuk membentuk tabel routing secara hirarki. Sebelum berlanjut ke dalamnya, perlu dijelaskan sedikit istilah-istilah umum dalam OSPF, yaitu :


· Area
Area yaitu letak dimana berada sebuah kumpulan network, router dan host biasa. Area di sini bukan berarti area fisik.

· Backbone
Backbone adalah area yang khusus dimana area-area saling terhubungkan. Seluruh area yang ada, harus terhubung ke backbone.
· Stub Area
Adalah area dimana hanya terdapat satu buah gateway / router, tidak ada alternatif lainnya.

OSPF bekerja dengan membentuk sebuah peta network yang dipelajari berdasarkan informasi dari router-router yang berada dalam neighbour. Peta tersebut akan berpusat pada local host. Dari localhost host tersebut akan ada cost untuk menuju network lain yang ditentukan dari hasil perhitungan.
Untuk memudahkan penggambarannya, mari kita bangun sebuah network imaginer demikian :

Keterangan
Router 1 terhubung ke subnet 10 dan 11
Router 2 terhubung ke subnet 11 dan 12
Router 3 terhubung ke subnet 12 dan 15
Router 4 terhubung ke subnet 13 dan 15
Router 5 terhubung ke subnet 14 dan 15
Pertama-tama network diatas akan dibagi menjadi beberapa area, yaitu :
Area 1 : 10 ( stub area karena hanya mempunyai 1 router )
Area 2 : 11 dan 12
Area 3 : 13 , 14 dan 15
Dan masing-masing router mempunyai neighbour :
Router 1 mempunyai neighbour router 2
Router 2 mempunyai neighbour router 1 dan 3
Router 3 mempunyai neighbour router 2, 4 dan 5
Router 4 mempunyai neighbour router 3 dan 5
Router 5 mempunyai neighbour router 3 dan 4
Router 1 menggambarkan peta network seperti demikian :


Sebagai localhost, router 1 bernilai 0. Lalu router 2 yang behubungan secara direct dengan router 1 diberikan cost 10 ( 0 + 10 ). Lalu dari router 2 berhubungan dengan router 3 yang bernilai 20 ( 0 + 10 + 10 ) dan pada akhirnya router 4 dan 5 bernilai 30.
Masing-masing link bernilai 10, yang berarti apabila link tersebut dilewati, maka harganya harus ditambahkan 10. Seperti pada contoh router 2 yang bernilai 20 merupakan hasil pertambahan 0 + 10 + 10.
Lalu pada bagian paling bawah dari gambar, ada router 4 dan 5 yang bernilai 40. Hal ini disebabkan router 4 bisa berhubungan lansung dengan 5 tanpa melalui router 3 dan itu akan menambah cost sebanyak 10 lagi. Demikian juga yang terjadi pada router 5 yang bisa dicapai melalui router 4, tanpa router 3. Namun pada akhirnya, cost terrendahlah yang dipilih dalam tabel routing. Yaitu yang bernilai 30 sedangkan 40 dibuang.



Membentuk Routing Table

Setiap host pada TCP/IP Network harus memiliki tabel routing agar dapat menentukan jalan untuk mencapai tujuan dari paket-paket yang akan dikirimkannya. Tabel routing secara otomatis akan terbentuk pada saat interface dikonfigurasi. Tabel routing pada tahap ini adalah tabel routing minimal. Perhatikan gambar 3-4. Untuk melihat tabel routing pada host dengan IP Address 167.205.20.3 ( Token Ring ) dalam bentuk numerik, dipakai perintah berikut :

$ netstat -nrRouting tablesDestination Gateway Flags Refcnt Use Interface127.0.0.1 127.0.0.1 UH 1 105 lo0167.205.20.0 167.205.20.3 U 35 3075 ed0

Bagian pertama dari tabel routing merupakan rute loopback ke localhost. Setiap host TCP/IP akan memiliki rute ini. Bagian kedua merupakan rute ke network 167.205.20.0 melalui interface ed0. Network ini adalah network lokal. Address 167.205.20.3 bukanlah remote gateway, melainkan address yang telah di-assign untuuk interface ed0. Perhatikan bahwa nomor network 167.205.20.0 muncul akibat parameter mask pada waktu konfigurasi interface dengan subnetmask 255.255.255.0. Tanpa adanya subnetmask, network address yang muncul adalah 167.205.0.0 ( Standar kelas B ).
Option pada kolom Flag:
Flag U ( up ) menandakan interface telah siap dipakai.
Flag H ( host ) menandakan hanya satu host yang dapat dicapai melalui rute ini. Berarti, rute ini hanya menuju ke host tertentu ( bedakan dengan rute ke suatu network yang mungkin memiliki puluhan / ratusan host ). Kebanyakan rute yang ada pada routing table menuju ke network, bukan ke host tertentu. Hal ini untuk memperkecil ukuran routing table. Suatu instansi mungkin hanya memiliki satu network, tetapi network tersebut mungkin terdiri dari ratusan host. Mudah dimengerti bahwa jika seluruh IP Address dari host yang ada pada network tujuan dimasukkan dalam routing table, ukurannya akan membengkak dengan cepat. Cukup nomor networknya saja yang dicantumkan karena telah mewakili nomor seluruh host pada network tersebut.
Flag b à alamat broadcast
Flag C à rute sedang digunakan
Flag c à sama seperti flag sebelumnya, tapi flag ini menunjuk ke protokol yang spesifik
Flag G à rute memerlukan gatway lagi
Flag S à ditambah secara manual

Untuk akses ke network yang lain, network token ring di atas hanya memiliki satu gateway, yakni yang ber-IP Address 167.205.20.11. Untuk itu, seluruh host yang ada pada network token ring ( kecuali gateway ) dapat menambahkan default routing sbb :
# route -n add default 167.205.20.11 1add net default: gateway 167.205.20.11

Dengan perintah ini, rute ke seluruh network ( selain network lokal ) akan ditempuh melalui gateway 1 (167.205.20.11). Option -n tidak harus digunakan. Option tersebut hanya untuk menampilkan address secara numerik untuk menghindari permintaan ke Name Server yang belum tentu bekerja. Metric 1 dipakai sebagai metric terkecil untuk rute melalui gateway ekstenal, untuk memberikan prioritas tertinggi pada rute ini. Jika kita periksa kembali routing table setelah memasukkan default routing ini, akan muncul sbb :

$ netstat -nrRouting tablesDestination Gateway Flags Refcnt Use Interface127.0.0.1 127.0.0.1 UH 1 105 lo0default 167.205.20.11 UG 0 0 ed0 167.205.20.0 167.205.20.3 U 35 3075 ed0

Pada routing table di atas terlihat adanya entri default routing. Flag G menandakan rute default ini melalui eksternal gateway ( host 167.205.20.11 ).
Pada network Ethernet ( 167.205.22.0 ) ada 3 buah gateway. Untuk host-host pada network ini, routing table dapat dibentuk secara statis. Misalkan kita berada pada host 167.205.22.3. Network 167.205.20.0 dapat dicapai melalui gateway 1 (167.205.22.5), network 44.132.1.0 melalui gateway 2 (167.205.22.18) dan akses ke network yang lebih besar, misalkan ke Internet Provider, dicapai melalui gateway 3 (167.205.22.20). Untuk itu, setelah routing minimal dapat ditambahkan perintah routing sbb :
# route -n add 167.205.20.0 167.205.22.5 1add net 167.205.20.0: gateway 167.205.22.5
# route -n add 44.132.1.0 167.205.22.18 1add net 44.132.1.0: gateway 167.205.22.18
# route -n add default 167.205.22.20 1add net default: gateway 167.205.22.20

Routing table akan bertambah menjadi :
$ netstat -nrRouting tablesDestination Gateway Flags Refcnt Use Interface127.0.0.1 127.0.0.1 UH 1 105 lo0167.205.22.0 167.205.22.3 U 28 9808 ed0default 167.205.22.20 UG 0 0 ed0 167.205.20.0 167.205.22.5 UG 0 0 ed044.132.1.0 167.205.22.18 UG 0 0 ed0

Agar routing table terbentuk pada saat start up komputer, perlu di set routing statis dengan beberapa modifikasi sbb :
· Tambahkan static routing yang diinginkan sesuai konfigurasi network
· Non-aktifkan semua perintah dari file startup yang menjalankan protokol routing.
Untuk host di atas, edit file rc.local untuk menambahkan statement route sbb:
route -n add default 167.205.22.20 1 > /dev/consoleroute -n add 167.205.20.0 167.205.22.5 1 > /dev/consoleroute -n add 44.132.1.0 167.205.22.18 1 > /dev/console

Startup file untuk setiap sistem mungkin saja berbeda, tetapi pada dasarnya memiliki prosedur yang sama. Bacalah selalu dokumentasi dari sistem anda.

mikrotik

Setup Mikrotik sebagai Gateway server
MikroTik RouterOS™, merupakan system operasi Linux base yang diperuntukkan sebagai
network router. Didesain untuk memberikan kemudahan bagi penggunanya. Administrasinya bisa
dilakukan melalui Windows application (WinBox). Selain itu instalasi dapat dilakukan pada
Standard computer PC. PC yang akan dijadikan router mikrotikpun tidak memerlukan resource
yang cukup besar untuk penggunaan standard, misalnya hanya sebagai gateway. Untuk
keperluan beban yang besar ( network yang kompleks, routing yang rumit dll) disarankan untuk
mempertimbangkan pemilihan resource PC yang memadai.
Fasilitas pada mikrotik antara lain sebagai berikut :
- Protokoll routing RIP, OSPF, BGP.
- Statefull firewall
- HotSpot for Plug-and-Play access
- remote winbox GUI admin
Lebih lengkap bisa dilihat di www.mikrotik.com.
Meskipun demikian Mikrotik bukanlah free software, artinya kita harus membeli licensi terhadap
segala fasiltas yang disediakan. Free trial hanya untuk 24 jam saja. Kita bisa membeli software
mikrotik dalam bentuk CD yang diinstall pada Hard disk atau disk on module (DOM). Jika kita
membeli DOM tidak perlu install tetapi tinggal menancapkan DOM pada slot IDE PC kita.
Langkah-langkah berikut adalah dasar-dasar setup mikrotik yang dikonfigurasikan untuk jaringan
sederhana sebagai gateway server.
1. Langkah pertama adalah install Mikrotik RouterOS pada PC atau pasang DOM.
2. Login Pada Mikrotik Routers melalui console :
MikroTik v2.9.7
Login: admin
Password:
Sampai langkah ini kita sudah bisa masuk pada mesin Mikrotik. User default adalah admin
dan tanpa password, tinggal ketik admin kemudian tekan tombol enter.
3. Untuk keamanan ganti password default
[admin@Mikrotik] > password
old password: *****
new password: *****
retype new password: *****
[admin@ Mikrotik]] >
4. Mengganti nama Mikrotik Router, pada langkah ini nama server akan diganti menjadi "Waton"
[admin@Mikrotik] > system identity set name=Waton
[admin@Waton] >
5. Melihat interface pada Mikrotik Router
[admin@Mikrotik] > interface print
Flags: X - disabled, D - dynamic, R - running
# NAME TYPE RX-RATE TX-RATE MTU
0 R ether1 ether 0 0 1500
1 R ether2 ether 0 0 1500
[admin@Mikrotik] >
6. Memberikan IP address pada interface Mikrotik. Misalkan ether1 akan kita gunakan untuk
koneksi ke Internet dengan IP 192.168.0.1 dan ether2 akan kita gunakan untuk network local
kita dengan IP 172.16.0.1
[admin@Waton] > ip address add address=192.168.0.1
netmask=255.255.255.0 interfac
e=ether1
[admin@Waton] > ip address add address=172.16.0.1
netmask=255.255.255.0 interfac
e=ether2
7. Melihat konfigurasi IP address yang sudah kita berikan
[admin@Waton] >ip address print
Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic
# ADDRESS NETWORK BROADCAST INTERFACE
0 192.168.0.1/24 192.168.0.0 192.168.0.63 ether1
1 172.16.0.1/24 172.16.0.0 172.16.0.255 ether2
[admin@Waton] >
8. Memberikan default Gateway, diasumsikan gateway untuk koneksi internet adalah
192.168.0.254
[admin@Waton] > /ip route add gateway=192.168.0.254
9. Melihat Tabel routing pada Mikrotik Routers
[admin@Waton] > ip route print
Flags: X - disabled, A - active, D - dynamic,
C - connect, S - static, r - rip, b - bgp, o - ospf
# DST-ADDRESS PREFSRC G GATEWAY DISTANCE INTERFACE
0 ADC 172.16.0.0/24 172.16.0.1 ether2
1 ADC 192.168.0.0/26 192.168.0.1 ether1
2 A S 0.0.0.0/0 r 192.168.0.254 ether1
[admin@Waton] >
10. Tes Ping ke Gateway untuk memastikan konfigurasi sudah benar
[admin@Waton] > ping 192.168.0.254
192.168.0.254 64 byte ping: ttl=64 time<1 ms
192.168.0.254 64 byte ping: ttl=64 time<1 ms
2 packets transmitted, 2 packets received, 0% packet loss
round-trip min/avg/max = 0/0.0/0 ms
[admin@Waton] >
11. Setup DNS pada Mikrotik Routers
[admin@Waton] > ip dns set primary-dns=192.168.0.10 allow-remoterequests=
no
[admin@Waton] > ip dns set secondary-dns=192.168.0.11 allow-remoterequests=
no
12. Melihat konfigurasi DNS
[admin@Waton] > ip dns print
primary-dns: 192.168.0.10
secondary-dns: 192.168.0.11
allow-remote-requests: no
cache-size: 2048KiB
cache-max-ttl: 1w
cache-used: 16KiB
[admin@Waton] >
13. Tes untuk akses domain, misalnya dengan ping nama domain
[admin@Waton] > ping yahoo.com
216.109.112.135 64 byte ping: ttl=48 time=250 ms
10 packets transmitted, 10 packets received, 0% packet loss
round-trip min/avg/max = 571/571.0/571 ms
[admin@Waton] >
Jika sudah berhasil reply berarti seting DNS sudah benar.
14. Setup Masquerading, Jika Mikrotik akan kita pergunakan sebagai gateway server maka agar
client computer pada network dapat terkoneksi ke internet perlu kita masquerading.
[admin@Waton] > ip firewall nat add action=masquerade outinterface=
ether1
chain: srcnat
[admin@Waton] >
15. Melihat konfigurasi Masquerading
[admin@Waton] ip firewall nat print
Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic
0 chain=srcnat out-interface=ether1 action=masquerade
[admin@Waton] >
Setelah langkah ini bisa dilakukan pemeriksaan untuk koneksi dari jaringan local. Dan jika
berhasil berarti kita sudah berhasil melakukan instalasi Mikrotik Router sebagai Gateway
server. Setelah terkoneksi dengan jaringan Mikrotik dapat dimanage menggunakan WinBox
yang bisa di download dari Mikrotik.com atau dari server mikrotik kita. Misal Ip address server
mikrotik kita 192.168.0.1, via browser buka http://192.168.0.1 dan download WinBox dari situ.
Jika kita menginginkan client mendapatkan IP address secara otomatis maka perlu kita setup
dhcp server pada Mikrotik. Berikut langkah-langkahnya :
1.Buat IP address pool
/ip pool add name=dhcp-pool ranges=172.16.0.10-172.16.0.20
2. Tambahkan DHCP Network dan gatewaynya yang akan didistribusikan ke client
Pada contoh ini networknya adalah 172.16.0.0/24 dan gatewaynya 172.16.0.1
/ip dhcp-server network add address=172.16.0.0/24 gateway=172.16.0.1
3. Tambahkan DHCP Server ( pada contoh ini dhcp diterapkan pada interface ether2 )
/ip dhcp-server add interface=ether2 address-pool=dhcp-pool
4. Lihat status DHCP server
[admin@Waton] > ip dhcp-server print
Flags: X - disabled, I - invalid
# NAME INTERFACE RELAY ADDRESS-POOL LEASE-TIME ADD-ARP
0 X dhcp1 ether2
Tanda X menyatakan bahwa DHCP server belum enable maka perlu dienablekan terlebih
dahulu pada langkah 5.
5. Jangan Lupa dibuat enable dulu dhcp servernya
/ip dhcp-server enable 0
kemudian cek kembali dhcp-server seperti langkah 4, jika tanda X sudah tidak ada berarti
sudah aktif.
6. Tes Dari client
Daftar Pustaka
http://mikrotik.com

dasar routing modul 1 s/d 3

SMK-TI TRAINING AND CERTIFICATION

ROUTING


ISI

Dasar – dasar Routing Modul 1

IP Routing & Routing protokol Modul 2

Routing Information Protokol Modul 3
(RIP)

Open Shortest Path First (OSPF) Modul 4

Membentuk Routing Table Modul 5


Modul 1

DASAR – DASAR ROUTING

Tujuan:
Siswa mampu mengetahui dan menjelaskan algoritma routing.
Siswa dapat mengetahui cara merancang jaringan dengan routing.
Siswa mampu membaca dan membuat tabel routing.

Dasar-dasar Routing

1. Routing Lansung dan Tidak Langsung
Seperti telah disebutkansebelumnya, proses pengiriman datagram IP selalu menggunakan tabel routing. Tabel routing berisi informasi yang diperlukan untuk menentukan ke mana datagram harus di kirim. Datagram dapat dikirim langsung ke host tujuan atau harus melalui host lain terlebih dahulu tergantung pada tabel routing.

Gambar Jaringan TCP/IP

Gambar diatas memperlihatkan jaringan TCP/IP yang menggunakan teknologi Ethernet. Pada jaringan tersebut host osiris mengirimkan data ke host seth, alamat tujuan datagram adalah seth dan alamat sumber datagram adalah osiris. Frame yang dikirimkan oleh host osiris juga memiliki alamat tujuan frame seth dan alamat sumbernya adalah osiris. Pada saat osiris mengirimkan frame, seth membaca bahwa frame tersebut ditujukan kepada alamat ethernetnya. Setelah melepas header frame, seth kemudian mengetahui bahwa IP address tujuan datagram tersebut juga adalah IP addressnya. Dengan demikian set meneruskan datagram ke lapisan transport untuk diproses lebih lanjut. Komunikasi model seperti ini disebut sebagai routing langsung.
Gambar Routing langsung

Pada gambar diatas terlihat bahwa osiris dan anubis terletak pada jaringan Ethernet yang berbeda. Kedua jaringan tersebut dihubungkan oleh khensu. Khensu memiliki lebih dari satu interface dan dapat melewatkan datagram daari satu interface ke intreface lain (atau bertindak sebagai router). Ketika mengirimkan data ke anubis, osiris memeriksa tabel routing dan mengetahui bahwa data tersebut harus melewati khensu terlebih dahulu. Dengan kondisi seperti ini datagram yang dikirim osiris ke anubis memiliki alamat tujuan anubis dan alamat sumber osiris tetapi frame ethernet yang dikirimnya diberi alamat tujuan khensu dan alamat sumber osiris.

Ketika osiris mengirimkan frame ke jaringan, khensu membaca bahwa alamat ethernet yang dituju frame tersebut adalah alamat ethernetnya. Ketika khensu melepas header frame, diketahui bahwa host yang dituju oleh datagram adalah host anubis. Khensu kemudian memeriksa tabel routing yang dimilikinya untuk meneruskan datagram tersebut. Dari hasil pemeriksaan tabel routing, khensu mengetahui bahwa anubis terletak dalam satu jaringan ethernet dengannya. Dengan demikian datagram tersebut dapat langsung disampaikan oleh khensu ke anubis. Pada pengiriman data tersebut, alamat tujuan dan sumber datagram tetap anubis dan osiris tetapi alamat tujuan dan sumber frame Ethernet menjadi anubis dan khensu. Komunikasi seperti ini disebut sebagai routing tak langsung karena untuk mencapai host tujuan, datagram harus melewati host lain yang bertidak sebagai router.
Pada dua kasus diatas terlihat proses yang terjadi pada lapisan internet ketika mengirimkan dan menerima datagram. Pada saat mengirimkan datagram, host harus memeriksa apakah alamat tujuan datagram terletak pada jaringan yang sama atau tidak. Jika lamat tujuan datagram terletak pada jaringan yang sama , datagram dapat langsung disampaikan. Jika ternyata alamat tujuan datagram tidak terletak pada jaringan yang sama, datagram tersebut harus disampaikan melalui host lain yang bertindak sebagai router. Pada saat menerima datagram host harus memeriksa apakah ia merukapakan tujuan dari datagram tersebut. Jika memang demikian maka data diteruskan ke lapisan transport. Jika ia bukan tujuan dari datagram tersebut, maka datagram tersebut dibuang. Jika host yang menerima datagram tersebut sebuah router, maka ia meneruskan datagram ke interface yang menuju alamat tujuan datagram.

2. Jenis Konfigurasi Routing
Konfigurasi routing secara umum terdiri dari 3 macam yaitu :
2.1 Minimal Routing
Dari namanya dapat diketahui bahwa ini adalah konfigurasi yang paling sederhana tapi mutlak diperlukan. Biasanya minimal routing dipasang pada network yang terisolasi dari network lain atau dengan kata lain hanya pemakaian lokal saja.
2.2 Static Routing
Konfigurasi routing jenis ini biasanya dibangun dalam network yang hanya mempunyai beberapa gateway, umumnya tidak lebih dari 2 atau 3. Static routing dibuat secara manual pada masing-masing gateway. Jenis ini masih memungkinkan untuk jaringan kecil dan stabil. Stabil dalam arti kata jarang down. Jaringan yang tidak stabil yang dipasang static routing dapat membuat kacau seluruh routing, karena tabel routing yang diberikan oleh gateway tidak benar sehingga paket data yang seharusnya tidak bisa diteruskan masih saja dicoba sehingga menghabiskan bandwith. Terlebih menyusahkan lagi apabila network semakin berkembang. Setiap penambahan sebuah router, maka router yang telah ada sebelumnya harus diberikan tabel routing tambahan secara manual. Jadi jelas, static routing tidak mungkin dipakai untuk jaringan besar, karena membutuh effort yang besar untuk mengupdatenya.
2.3 Dynamic Routing
Dalam sebuah network dimana terdapat jalur routing lebih dari satu rute untuk mencapat tujuan yang sama biasanya menggunakan dynamic routing. Dan juga selain itu network besar yang terdapat lebih dari 3 gateway. Dengan dynamic routing, tinggal menjalankan routing protokol yang dipilih dan biarkan bekerja. Secara otomatis tabel routing yang terbaru akan didapatkan.
Seperti dua sisi uang, dynamic routing selain menguntungkan juga sedikit merugikan. Dynamic routing memerlukan routing protokol untuk membuat tabel routing dan routing protokol ini bisa memakan resource komputer.

3. Routing Protocol
Protokol routing merupakan aturan yang mempertukarkan informasi routing yang nantinya akan membentuk tabel routing sedangkan routing adalah aksi pengiriman-pengiriman paket data berdasarkan tabel routing tadi.
Semua routing protokol bertujuan mencari rute tersingkat untuk mencapai tujuan. Dan masing-masing protokol mempunyai cara dan metodenya sendiri-sendiri. Secara garis besar, routing protokol dibagi menjadi Interior Routing Protocol dan Exterior Routing Protocol. Keduanya akan diterangkan sebagai berikut :

3.1. Interior Routing Protocol
Sesuai namanya, interior berarti bagian dalam. Dan interior routing protocol digunakan dalam sebuah network yang dinamakan autonomus systems (AS) . AS dapat diartikan sebagai sebuah network (bisa besar atau pun kecil) yang berada dalam satu kendali teknik. AS bisa terdiri dari beberapa sub network yang masing-masingnya mempunyai gateway untuk saling berhubungan. Interior routing protocol mempunyai beberapa macam implemantasi protokol, yaitu :

3.1.1. RIP (Routing Information Protocol)
Merupakan protokol routing yang paling umum dijumpai karena biasanya sudah included dalam sebuah sistem operasi, biasanya unix atau novell. RIP memakai metode distance-vector algoritma. Algoritma ini bekerja dengan menambahkan satu angka metrik kepada ruting apabila melewati satu gateway. Satu kali data melewati satu gateway maka angka metriknya bertambah satu ( atau dengan kata lain naik satu hop ). RIP hanya bisa menangani 15 hop, jika lebih maka host tujuan dianggap tidak dapat dijangkau.
Oleh karena alasan tadi maka RIP tidak mungkin untuk diterapkan di sebuah AS yang besar. Selain itu RIP juga mempunyai kekurangan dalam hal network masking. Namun kabar baiknya, implementasi RIP tidak terlalu sulit ika dibandingkan dengan OSPF yang akan diterangkan berikut ini.

3.1.2. OSPF (Open Shortest Path First)
Merupakan protokol routing yang kompleks dan memakan resource komputer. Dengan protokol ini, route dapat dapat dibagi menjadi beberapa jalan. Maksudnya untuk mencapai host tujuan dimungkinkan untuk mecapainya melalui dua atau lebih rute secara paralel.
Lebih jauh tentang RIP dan OSPF akan diterangkan lebih lanjut.

3.2. Exterior Protocol
AS merupakan sebuah network dengan sistem policy yang pegang dalam satu pusat kendali. Internet terdiri dari ribuan AS yang saling terhubung. Untuk bisa saling berhubungan antara AS, maka tiap-tiap AS menggunakan exterior protocol untuk pertukaran informasi routingnya. Informasi routing yang dipertukarkan bernama reachability information (informasi keterjangkauan). Tidak banyak router yang menjalankan routing protokol ini. Hanya router utama dari sebuah AS yang menjalankannya. Dan untuk terhubung ke internet setaip AS harus mempunyai nomor sendiri. Protokol yang mengimplementasikan exterior :

3.2.1. EGP (Exterior Gateway Protocol)
Protokol ini mengumumkan ke AS lainnya tentang network yang berada di bawahnya. Pengumumannya kira-kira berbunyi : " Kalau hendak pergi ke AS nomor sekian dengan nomor network sekian, maka silahkan melewati saya" .
Router utama menerima routing dari router-router AS yang lain tanpa mengevaluasinya. Maksudnya, rute untuk ke sebuah AS bisa jadi lebih dari satu rute dan EGP menerima semuanya tanpa mempertimbangkan rute terbaik.

3.2.2. BGP (Border Gateway Protocol)
BGP sudah mempertimbangkan rute terbaik untuk dipilih. Seperti EGP, BGP juga mepertukarkan reachability information.


IP ROUTING & ROUTING PROTOKOL

1. Pendahuluan
Dalam network sederhana sekali pun, sebuah paket data perlu tahu jalan yang akan dia tempuh untuk sampai ke tujuan. Untuk mengetahuinya paket data tadi sudah disertai alamat tujuan pada headernya. Alamat tersebut apabila memungkinkan untuk dicapai, maka paket tadi akan diteruskan sampai tujuan, jika tidak paket maka akan dikembalikan.
Informasi routing diperlukan untuk mengetahui apakah tujuan bisa dicapai atau tidak. Informasi routing tadi bisa didapatkan dengan bermacam-macam konfigurasi routing. Pemilihan metode konfigurasi tergantung dari banyaknya gateway yang terdapat dalam network tersebut dan kompleksitasnya.
Konsep routing adalah hal yang utama pada lapisan internet di jaringan TCP/IP. Hal ini karena pada lapisan internet terjadi pengalamatan (addressing). Kita coba perhatikan kembali aliran data pada arsitektur TCP/IP. Data dari lapisan aplikasi disampaikan ke lapisan transport dengan diberi header TCP atau UDP tergantung jenis aplikasinya. Setelah itu segmen TCP atau UDP disampaikan ke lapisan IP dan diberi header, termasuk alamat asal dan tujuan datagram. Pada saat ini host harus melakukan routing dengan melihat tabel routing. Setelah melihat tabel routing, datagram diteruskan ke lapisan network interface dan diberi header dengan alamat tujuan yang sesuai.
Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan jaringan TCP/IP yang menggunakan teknologi Ethernet. Setiap frame ethernet (Ethernet II) mengandung alamat tujuan dan asal, tipe protokol, dan data. Alamat tujuan dan asal adalah sebuah bilangan 48 bit. Setiap card ethernet memiliki alamat ethernet yang unix (MAC address). Agar datagram dapat diterima oleh sebuah host tujuan, datagram harus dimasukan dalam frame dengan alamat ethernet tujuan yang sama dengan alamat card ethernet host tujuan. Proses ini juga bagian dari routing, yaitu pada saat mengirimkan datagram IP bagaimana menentukan alamat Ethernet host tujuan datagram tersebut?

2. ARP
Untuk keperluan mapping IP address ke Alamat Ethernet maka di buat protokol ARP (Address Resolution Protocol). Proses mapping ini dilakukan hanya untuk datagram yaang dikirim host karena pada saat inilah host menambahkan header Ethernet pada datagram. Penerjemahan dari IP address ke alamat Ethernet dilakukan dengan melihat sebuah tabel yang disebut sebagai cache ARP, lihat tabel 1. Entri cache ARP berisi IP address host beserta alamat Ethernet untuk host tersebut. Tabel ini diperlukan karena tidak ada hubungan sama sekali antara IP address dengan alamat Ethernet. IP address suatu host bergantung pada IP address jaringan tempat host tersebut berada, sementara alamat Ethernet sebuah card bergantung pada alamat yang diberikan oleh pembuatnya.
Tabel Cache ARP
IP address
Alamat Ethernet
132.96.11.1
0:80:48:e3:d2:69
132.96.11.2
0:80:ad:17:96:34
132.96.11.3
0:20:4c:30:29:29

Mekanisme penterjemahan oleh ARP dapat dijelaskan sebagai berikut. Misal suatu host A dengan IP address 132.96.11.1 baru dinyalakan, lihat Gambar 1. Pada saat awal, host ini hanya mengetahui informasi mengenai interface-nya sendiri, yaitu IP address, alamat network, alamat broadcast dan alamat ethernet. Dari informasi awal ini, host A tidak mengetahui alamat ethernet host lain yang terletak satu network dengannya (cache ARP hanya berisi satu entri, yaitu host A). Jika host memiliki route default, maka entri yang pertama kali dicari oleh ARP adalah router default tersebut.
Misalkan terdapat datagram IP dari host A yang ditujukan kepada host B yanng memiliki IP 132.96.11.2 (host B ini terletak satu subnet dengan host A). Saat ini yang diketahui oleh host A adalah IP address host B tetapi alamat ethernet B belum diketahui.


Agar dapat mengirimkan datagram ke host B, host A perlu mengisi cache ARP dengan entri host B. Karena cache ARP tidak dapat digunakan untuk menerjemahkan IP address host BB menjadi alamat Ethernet, maka host A harus melakukan dua hal yaitu :
Ø Mengirimkan paket ARP request pada seluruh host di network menggunakan alamat broadcast Ethernet (FF:FF:FF:FF:FF:FF) untuk meminta jawaban ARP dari host B, lihat gambar 2.
Ø Menempatkan datagram IP yang hendak dikirim dalam antrian.

Paket ARP request yang dikirim host A kira-kira berbunyi “Jika IP address-mu adalah 132.96.11.2, mohon beritahu alamat Ethernet-mu”. Karena paket ARP request dikirim ke alamat broadcast Ethernet, setiap interface Ethernet komputer yang ada dalam satu subnet (jaringan) dapat mendengarnya. Setiap host dalam jaringan tersebut kemudian memeriksa apakah IP addressnya sama dengan IP address yang diminta oleh host A.


Host B yang mengetahui bahwa yang diminta oleh host A adalah IP address yang dimilikinya langsung memberikan jawaban dengan mengirimkan paket ARP response langsung ke alamat ethernet pengirim (host A), seperti terlihat pada gambar 3. Paket ARP request tersebut kira-kira berbunyi “IP address 132.96.11.2 adalah milik saya, sekarang saya berikan alamat ethernet saya”.

Paket ARP request dari host B tersebut diterima oleh host A dan host A kemudian menambahkan entri IP addresss host B beserta alamat Ethernet-nya ke dalam cache ARP, lihat gambar 4.

Saat ini host A telah memiliki entri untuk host B di tabel cache ARP, dengan demikian datagram IP yang semula dimasukkan ke dalam antrian dapat diberi header Ethernet dan dikirim ke host B.
Secara ringkas proses ARP adalah:
1. Host mengirimkan paker ARP request dengan alamat broadcast Etehrnet.
2. Datagram IP yang dikirim dimasukkan ke dalam antrian.
3. Paket ARP respon diterima host dan host mengisi tabel ARP dengan entri baru.
4. Datagram IP yang terletak dalam antrian diberi header Ethernet.
5. Host mengirimkan frame Ethernet ke jaringan.
Setiap data ARP yang diperoleh disimpan dalam tabel cache ARP dan cache ini diburi umur. Setiap umur entri tersebut terlampaui, entri ARP dihapus dari tabel dan untuk mengisi tabel. Jika host akan mengirimkan datagram ke host yang sudah dihapus dari cache ARP, host kembali perlu melakukan langkah-langkah diatas. Dengan cara ini dimungkinkan terjadinya perubahan isi cache ARP yang dapat menunjukkan dinamika jaringan. Jika sebuat host di jaringan dimatikan, maka selang beberapa saat kemudian entri ARP untuk host tersebut dihapus karena kadaluarsa. Jika card ethernetnya diganti, maka beberapa saat kemudian entri ARP host berubah dengan informasi alamat ethernet yang baru


Routing Information Protokol

1. Pendahuluan

RIP kepanjangan dari Routing Information protocol. Pada setiap sistem unix secara default sudah mendukung penggunaan RIP. Aplikasi RIP pada unix bernama routed ( routing daemon ).
2. Cara Kerja
RIP bekerja dengan nilai metrik. Setiap router yang menjalankan RIP membuat permintaan untuk update routing dari router atau host lainnya yang berada satu network dengannya. Router yang mendengar adanya permintaan tadi akan memberikan tabel routingnya kepada yang meminta. Update tabel routing tadi memuat informasi alamat tujuan beserta metriknya. Sebagai contoh, untuk melihat tabel routing pada unix , tinggal ketik perintah :
[radar] # netstat -nr
Routing tables
Internet:
Destination Gateway Flags Refs Use Netif Expire
default 167.205.48.33 UGSc 1 734 ed0
127.0.0.1 127.0.0.1 UH 1 734 lo0
167.205.48.32/27 link#1 UC 0 0 ed0
167.205.48.33 0:80:ad:b7:9c:87 UHLW 2 2 ed0
167.205.48.57 0:80:48:af:d5:e3 UHLW 1 10052 lo0

Routed secara periodik meminta request update routing. Hasil respon tadi, sebelum dimasukkan ke dalam kernel table routing ( KRT ) diperiksa terlebih dahulu. Apabila ada routing untuk ke alamat yang baru , yang belum ada sebelumnya, maka routing tadi dimasukkan ke dalam KRT. Apabila ternyata tidak ada yang baru, maka update tadi tidak dimasukkan. Lain halnya jika alamat yang sudah ada berubah metriknya menjadi lebih kecil. Mengecilnya metrik membuat jalur rute yang lebih pendek dan oleh karena itu diputuskan untuk dimasukkan ke dalam KRT.
Metrik dalam RIP dapat dibayangkan sebagai jumlah hop untuk mencapat sebuah alamat. Untuk lebih mudah membayangkannya, lihat skema network di bawah ini.
Skema Jaringan
Router 1 memerlukan 1 hop untuk mencapat router 2 dalam artian router 1 dapat menjangkau router 2 secara lansung karena berada pada satu network yang sama. Hal ini juga berlaku untuk router 2 dan 3.
Sedangkan untuk menuju router 3, router 1 memerlukan 2 hop. Pertama melewati router 2 lalu sampai di tujuan, router 3. Demikian seterusnya. Jumlah hop ini dapat dianalogikan dengan metrik.
Selain mengupdate KRT dengan routing yang baru, routed juga menghapus tabel routing. Tabel yang dihapus karena dua sebab, yaitu :
· mempunyai metrik lebih dari 15. metrik yang berharga 16 dianggap infinity, tidak dapat dijangkau.
· Tidak mendapatkan update yang semestinya dikirimkan secara periodik. Secara deafult routed meminta update routing setaip 30 detik. Apabila waktu tersebut terlampaui, maka alamat yang tadinya ada, namun tidak terupdate, akan dihapus dari KRT. Seperti pada contoh di atas, apabila router 1 tidak memberikan respon kepada router 2, maka router 2 akan menghapus subnet 10 dari alamt tujuan di KRT. Subnet 10 dianggap tidak dapat dijangkau.

3. Implementasi routed
Untuk menjalankan routed sederhana saja, tinggal ketik :
# routed
Option yang ada pada routed, seperti :
-s
memaksa routed untuk memberikan informasi routing. Routed secara otomatis menjalankan option ini sewaktu ditemukan adanya 2 network interface atau lebih. Dengan demikian, host ini menjadi router dengan di enable nya fungsi forwarding pada kernel.
-q
Dengan option ini, host tidak memberikan informasi routing, melainkan hanya menerima update saja. Host yang demikian bukanlah sebuah router.

4. Kelemahan RIP
Dalam implementasi RIP memang mudah untuk digunakan, namun RIP mempunyai masalah serius pada Autonomous System yang besar, yaitu :
4.1 Terbatasnya diameter network
Telah disebutkan sedikit di atas bahwa RIP hanya bisa menerima metrik sampai 15. Lebih dari itu tujuan dianggap tidak terjangkau. Hal ini bisa menjadi masalah pada network yang besar.
4.2 Konvergensi yang lambat
Untuk menghapus entry tabel routing yang bermasalah, RIP mempunyai metode yang tidak efesien. Seperti pada contoh skema network di atas, misalkan subnet 10 bernilai 1 hop dari router 2 dan bernilai 2 hop dari router 3. Ini pada kondisi bagus, namun apabila router 1 crash, maka subnet 3 akan dihapus dari tabel routing kepunyaan router 2 sampai batas waktu 180 detik. Sementara itu, router 3 belum mengetahui bahwa subnet 3 tidak terjangkau, ia masih mempunyai tabel routing yang lama yang menyatakan subnet 3 sejauh 2 hop ( yang melalui router 2 ). Waktu subnet 3 dihapus dari router 2, router 3 memberikan informasi ini kepada router 2 dan router 2 melihat bahwa subnet 3 bisa dijangkau lewat router 3 dengan 3 hop ( 2 + 1 ).Karena ini adalah routing baru maka ia akan memasukkannya ke dalam KRT. Berikutnya, router 2 akan mengupdate routing table dan memberikannya kepada router 3 bahwa subnet 3 bernilai 3 hop. Router 3 menerima dan menambahkan 1 hop lagi menjadi 4. Lalu tabel routing diupdate lagi dan router 2 meneriman informasi jalan menuju subnet 3 menjadi 5 hop. Demikian seterusnya sampai nilainya lebih dari 30. Routing atas terus menerus looping sampai nilainya lebih dari 30 hop.

4.3 Tidak bisa membedakan network masking lebih dari /24
RIP membaca ip address berdasarkan kepada kelas A, B dan C. Seperti kita ketahui bahwa kelas C mempunyai masking 24 bit. Dan masking ini masih bisa diperpanjang menjadi 25 bit, 26 bit dan seterusnya. RIP tidak dapat membacanya bila lebih dari 24 bit. Ini adalah masalah besar, mengingat masking yang lebih dari 24 bit banyak dipakai. Hal ini sudah dapat di atasi pada RIPv2.

Senin, 24 November 2008

Soal Teori

1. Apa yang anda ketahui tentang mikrotik?
2. Apa beda router dinamik dan router statik?
3. Apa yang dimaksud dengan table routing?
4. Tuliskan salah satu contoh table routing dalam linux...
5. Apa saja tugas dan kewajiban seorang administrator jaringan?
6. Dalam sistem operasi linux ada berapa aplikasi server yang dapat dibangun?
7. Jelaskan fungsi masing-masing aplikasi server tersebut

Rabu, 19 November 2008

Bersih Itu Indah

Jam 07.00 sudah masuk, seperti yang ditunjukkan jam yang di HP-ku. Tak lama kemudian lagu Padamu Negeri juga berkumandang dengan nyaring, terdengar dari ujung kelas sampai ujung kantin, menandakan waktu belajar pagi itu sudah mulai.
Walaupun waktu belajar sudah masuk, siswa-siswiku masih saja ada yang terlambat hadir. Lima menit muncul satu orang, berarti jatah siswaku mencari 30 botol atau gelas air mineral yang dibuang sembarangan di lingkungan sekolah oleh siswa yang belum mengerti tentang kebersihan setelah mereguk isinya. Beberapa menit kemudian datang juga yang lain...berarti sama. tugasnya mencari botol-botol atau gelas air mineral tersebut. Memang siswa-siswiku kadag kala mengeluh, macet atau telat bangun...bahkan baru juga masuk jam tujuh sudah disuruh mencari sampah. Tapi aku tetap tak bergeming, "Kalian harus mencari gelas plastik itu sesuai jumlah yang telah ditentukan!!!"

Aku tidak banyak berharap dari tugasku kepada mereka. Seandainya nanti para siswa-siswiku sudah lulus dari SMK Negeri 2 Bogor ini, apakah mereka paham dengan arti kebersihan? Apakah Mereka mengerti tentang sedikit keimanan dari menjaga kebersihan? Barangkali kalau sesuatu yang aku tugaskan itu keluar dari hati sanubariku yang paling dalam, ikhlas, mungkin nanti mereka akan paham dengan semua ini. Aku tidak memaksa kepada mereka untuk harus paham, tetapi mereka dapat mengambil hikmahnya walaupun sekuku hitam saja, aku sudah senang. Memang landasan kesabaran dalam menjalani tugas dan kewajiban sebagai seorang sepertiku harus selalu tertanam dalam-dalam, seperti halnya orang tua kita dulu membesarkan anak-anaknya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Kalau berbicara masalah ikhlas, apakah kita sudah ikhlas...??? Pada dasarnya kita sudah sering melakukan sebuah tindakan yang benar-benar ikhlas. Aku bangun pagi-pagi jam 4 subuh. Seperti halnya orang-orang lain yang bangun pagi, biasanya terus mebuang sesuatu yang sejak malam hari kita simpan dalam perut kita ke dalam WC. Aku melakukan hal itu dengan tulus ikhlas, tidak berharap yang aku buang itu akan kuambil lagi. Apakah kaliah sama sepertiku? Terus wudlu juga ikhlas. Yah, akhirnya rutinitas pekerjaan aku lakukan dengan dasar keikhlasan.....

Selasa, 18 November 2008

karya tulisku

KARYA TULIS

UJI KOMPETENSI SISWA SMK NEGERI 2 BOGOR
KELOMPOK TEKNOLOGI INDUSTRI
BIDANG KEAHLIAN
TEKNIK MESIN, TEKNIK ELEKTRO DAN TEKNIK BANGUNAN
DISELENGGARAKAN SECARA LOKAL
DENGAN SOAL TERPADU


Oleh : Drs. Haryono, S.ST.
Guru SMK Negeri 2 Bogor


A. Latar Belakang

Program hemat energi dewasa ini sedang menjadi boming di seluruh dunia. Krisis energi minyak (BBM) menjadi pemicu krisis energi yang lain seperti krisis energi listrik misalnya, sehingga permasalahan ini menjadi sorotan utama pemborosan energi. Disamping itu krisis energi juga berdampak pada permasalahan dunia pendidikan, karena di lini ini sangat tergantung pada energi listrik, misal pemakaian komputer untuk kegiatan belajar mengajar dan sebagainya.
Untuk mengatasi krisis energi listrik pada khususnya, diharapkan dunia pendidikan dan lingkungan akademisi dapat memikirkan sumber energi alternatif guna mengatasi krisis tersebut. Kesempatan yang tepat agar dunia pendidikan ikut memikirkan solusi krisis energi yaitu melalui pembuatan tugas akhir bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kelompok teknologi dan industri yang diujikan.
Salah satu program pendidikan SMK di seluruh Indonesia dalam meluluskan siswanya melalui satu program Ujian Nasional, Ujian Sekolah dan ujian praktek pada bidang produktif yang dinamakan Uji Kompetensi, yaitu ujian yang harus ditempuh oleh siswa untuk mendapatkan sertifikat dibidang mata pelajaran produktif dengan penilaian dari asessor.
Selama ini uji kompetensi masih sentralisasi, antara lain standar operasionalnya masih mengacu dari pusat dan atau propinsi. Untuk dapat melaksanakan aturan uji kompetensi yang bersifat lokal, aturan dari pusat dan propinsi dapat dipakai sebagai pedoman, tetapi untuk soal uji kompetensi dapat dibuat secara lokal (daerah) dengan lebih spesifik oleh sekolah penyelenggara. Dalam hal ini guna untuk mewujudkan uji kompetensi yang hasil karyanya terpadu sehingga menghasilkan karya nyata yang tepat guna bagi masyarakat guna mengatasi suatu problematika masalah krisis energi.
Berkaitan dengan uji kompetensi yang telah lampau, pelaksanaannya dan soal uji kompetensi masih berdasarkan Bidang Keahlian masing-masing yang ada di sekolah penyelenggara, misalnya : Teknik Mesin, Teknik Bangunan, Teknik Elektronika, Teknik Listrik dan Teknik Informatika serta Teknik Mekanik Otomotif.
Guna mendukung program pemerintah untuk menghemat energi, salah satu daya dukung yang terdapat di lingkungan SMK Negeri 2 Bogor yaitu adanya Bidang Keahlian Teknik Mesin, Teknik Bangunan, Teknik Elektro (Teknik Listrik) dan Teknik Informatika serta Teknik Mekanik Otomotif.
Adanya Sumber Daya Alam (SDA) yang terdapat di sekitar SMK Negeri 2 Bogor, yaitu aliran sungai yang mengelilingi sekolah, dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di SMK Negeri 2 Bogor yaitu staf pengajar produktif yang profesional dan siswa SMK Negeri 2 Bogor sebagai aset bangsa.

B. Tujuan
Karya tulis ini dibuat dengan tujuan :
Mendukung program pemerintah dalam hal menangani krisis energi khususnya energi listrik
Menggali kemampuan atau skill siswa dalam menghasilkan karya teknologi monumental yang tepat guna
Membuka wawasan para staf pengajar bidang produktif pada khususnya agar dapat menggali Sumber Daya Alam yang ada dan meningkatkan kreatifitasnya dalam proses belajar mengajar
Membuka peluang kerja sama antara SMK Negeri 2 Bogor dengan dunia usaha / dunia industri untuk menjadi sponsor pelaksanaan program uji kompetensi terpadu
Membuka peluang pemerintah daerah untuk dapat mengeksplorasi sumber daya alam yang ada melalui lembaga pendidikan maupun lembaga masyarakat
Membuka wawasan berpikir masyarakat agar dapat mengolah sumber daya alam guna mengantisipasi krisis energi dengan solusi yang tepat guna dan tepat sasaran
C. Batasan Masalah
Karya tulis tentang uji kompetensi siswa kelompok teknologi industri ini ruang lingkupnya dibatasi pada siswa SMK Negeri 2 Bogor khususnya Bidang Keahlian Teknik Bangunan, Teknik Elektro (Teknik Listrik) dan Teknik Mesin. Ketiga Bidang Keahlian tersebut memungkinkan untuk merumuskan soal uji kompetensi yang terpadu sehingga menghasilkan suatu karya monumental berupa pembangkit listrik air deras.
D. Rumusan Masalah
Bagaimana uji kompetensi di SMK Negeri 2 Bogor dilaksanakan secara terpadu oleh seluruh Bidang Keahlian, sehingga menghasilkan sebuah karya monumental siswa untuk mendukung program pemerintah dalam menghemat energi khususnya energi listrik yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat pada umumnya dan SMK Negeri 2 Bogor pada khususnya ?
E. Langkah Strategis
Dalam menyelenggarakan uji kompentensi di SMK Negeri 2 Bogor yang terpadu, dapat melalui beberapa tahapan. Adapun langkah strategis yang harus dilakukan yaitu merumuskan bidang garapan pada setiap Bidang Keahlian. Di SMK Negeri 2 Bogor mempunyai Bidang Keahlian Teknik Mesin, Teknik Bangunan, Teknik Elektronika, Teknik Listrik dan Teknik Informatika serta Teknik Mekanik Otomotif.
Langkah utama yang harus dirumuskan :
1. Bidang Keahlian Teknik Bangunan dapat merumuskan soal uji kompetensi tentang survey dan pemetaan untuk pembuatan bendungan/dam dengan sistem aliran air deras untuk mengalirkan sumber air (sungai) yang ada di sepanjang SMK Negeri 2 Bogor, dengan berbagai kriteria yang ada.
2. Bidang Keahlian Teknik Mesin dapat merumuskan soal uji kompetensi tentang pembuatan sebuah turbin/kincir air khusus untuk air deras yang berfungsi menggerakkan motor listrik atau dinamo pembangkit sumber daya listrik.
3. Bidang Keahlian Teknik Listrik dapat merumuskan soal uji kompetensi tentang pembuatan sebuah motor listrik / dinamo pembangkit sumber listrik dengan daya besar dan pembuatan panel-panel pembagi tegangan.
4. Bidang Keahlian Teknik Elektronika dan Bidang Keahlian Teknik Informatika merumuskan pengujian hasil sumber energi yang dibuat oleh siswa, perpaduan dari Bidang Keahlian Bangunan, Mesin dan Elekro (Listrik), dengan memanfaatkan sumber energi listrik tersebut untuk kegiatan praktek di laboratorium atau bengkel.
F. Kesimpulan
Dari hasil pemikiran karya tulis ini, dapat diambil beberapa kesimpulan yang mendasar, yaitu :
Uji kompetensi dapat diselenggarakan dengan soal yang terpadu, dengan standar operasional mengacu dari pusat atau propinsi
Keterpaduan soal uji kompetesi yang dimaksudkan yaitu, soal dari Bidang Keahlian yang berbeda akan menunjang untuk soal uji kompetensi Bidang Keahlian yang lain, dengan hasil karya cipta yang terpadu dan bermanfaat untuk masyarakat sekolah dan sekitarnya
Krisis energi dapat diatasi dengan mengolah sumber daya yang ada disekitar dengan memberdayakan sumber daya manusia.

G. Saran - Saran
1. Problema krisis energi Negara kita pada dasarnya dapat diatasi apabila semua elemen masyarakat bekerja sama dengan sektor akademisi atau lembaga pendidikan untuk mencari solusi dengan cara mengolah sumber daya alam yang ada dan memberdayakan sumber daya manusia pada umumnya dan tenaga ahli tingkat menengah pada khususnya yaitu tamatan sekolah kejuruan.
2. Dengan adanya karya tulis ini, besar kemungkinan penyelenggaraan uji kompetensi dengan memadukan soal dari berbagai Bidang Keahlian yang membentuk karya nyata yang monumental dapat pula diberlakukan di daerah lain, sehingga diharapkan pemerintah pusat dapat menindaklanjuti secara nasional.
PEMERINTAH KOTA BOGOR
DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN ( SMK ) NEGERI 2 BOGOR
KELOMPOK TEKNOLOGI DAN INDUSTRI
Jl. Pangeran Sogiri No. 404 Tanah Baru Ciluar Bogor Utara 16154
Telepon (0251) 8652085, Email : smkn2kotabogor@yahoo.com
==============================================================
SURAT KETERANGAN
Nomor : 311 / 423.4 - SMK.2 / 2008

Yang bertanda tangan di bawah ini kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Kota Bogor, dengan ini menyatakan bahwa :
1. Nama : Drs. Haryono, S.ST.
2. NIP : 132084939
3. Pangkat/Golongan/Ruang : Pembina / VI /a
4. Tempat & Tanggal lahir : Yogyakarta, 3 Nopember 1967
5. Unit Kerja : SMK Negeri 2 Bogor
6. Alamat Kantor : Jl. Pangeran Sogiri No. 404 Tanah Baru, Ciluar Bogor Utara 16154 telepon (0251) 8652085
7. Alamat Rumah : Gg. Aut Komplek STM PGRI No. 10 Rt 1/ Rw 5 Bogor 16123 Telepon (0251) 8374420 / 08159908225

Adalah benar staf pengajar/guru SMK Negeri 2 Kota Bogor Bidang Keahlian Teknik Informatika, yang pada kesempatan ini menulis sebuah Karya Tulis Ilmiah Inovasi dengan judul :
UJI KOMPETENSI SISWA SMK NEGERI 2 BOGOR KELOMPOK TEKNOLOGI INDUSTRI BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN, TEKNIK ELEKTRO DAN TEKNIK BANGUNAN DISELENGGARAKAN SECARA LOKAL DENGAN SOAL TERPADU

Demikian surat keterangan ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Bogor, 3 Nopember 2008

Kepala,



Drs. Uus Sukmara
Pembina
NIP. 131958784

liputan jurnalism

Oleh : Drs. Haryono, S.ST.
d/a
SMK Negeri 2 Bogor
Jl. Pangeran Sogiri No. 404 Tanah Baru Ciluar Bogor Utara.
No. HP. 08159908225
==============================================================

MENGASAH SKILL SISWA AGAR LEBIH KREATIF

Acara Workshop Citizen Journalism bagi pelajar tingkat SMA/Sederajat di SMK Negeri 3 Bogor yang dilaksanakan sejak 11-12 Nopember 2008 sudah dipenghujung waktu. Penugasan peliputan dan pembuatan berita sudah berlangsung. Kelompok pelajar sudah mempresentasikan hasil liputannya dengan PowerPoint-nya. Perwakilan siswa SMK Negeri 2 Bogor tidak membuat liputan berita, karena mereka sudah pernah mendapatkan tugas meliput berita sebagai tugas akhir kenaikan tingkat dari salah seorang guru pengajarnya.

Ada tiga contoh video hasil karya siswa SMK Negeri 2 Bogor berupa video yang ditunjukkan kepada ibu Mia Nurmiarani ( Marketing Communications dari media Pikiran Rakyat Bandung). Kata guru pembimbing siswa peserta pelatihan,” Bu Mia, nanti file-nya saya burning ke CD kemudian dikirim ke Ibu. Terlalu besar file-nya kalau di-copy pakai flash disk.” Pada saat itu Ibu Mia ingin mengcopy file video tersebut agar dipresentasikan.

Tugas akhir untuk kenaikan tingkat, setiap kelompok siswa tingkat X (sepuluh) Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 2 Bogor harus membuat karya yang monumental berupa liputan berita dalam bentuk video. Tugas ini kalau dijelaskan mempunyai multi tujuan, antara lain :
siswa dapat menjadi reporter berita dengan sarana kamera digital atau kamera handphone, bila menemukan suatu kejadian yang terabadikan sehingga dengan kreatifitasnya akan dapat menghasilkan materi apabila dapat dimunculkan dalam pemberitaan.
siswa dapat memfungsikan perangkat lunak komputer (software) editing video.
siswa dapat mengedit liputan berita yang berupa potongan-potongan video menjadi suatu hasil karya editing video dengan komentar-komentar berupa voice atau text.
siswa dapat membuat suatu iklan (Commersial Break) baik yang dikemas dalam suasana serius atau pun slengekan.
siswa dapat membuat video klip
dapat pula kelanjutan tugas ini menjadi suatu hobbi yang menghasilkan keuntungan berupa materi walaupun setiap siswa masih duduk di bangku sekolah.
siapa tahu kreatifitas para siswa akan bernasib seperti sutradara film Riri Reza, Nia Dinata, Hanung Bramantyo, dan lain-lain.

Untuk dapat menggali kreatifitas siswa dalam berkarya di bidang jurnalisme, ataupun membangkitkan hobbi siswa menggunakan kamera khususnya kamera handphone secara positif perlu suatu strategi.

Acara seperti ini perlu diadakan secara rutin, karena akan membekali setiap siswa dengan sesuatu hal yang positif. Di samping itu juga akan membuka peluang kerja sampingan sebagai reporter lepas atau bahkan siswa termotivasi untuk terjun ke dunia infotainmen dengan sepenuh hati.



Email : aryo_gendeng@yahoo.com
mbah_darmoo@yahoo.co.id